Berikut adalah jenis produk MU untuk berbagai keperluan yang informasinya disarikan dari materi pemasaran dari MU sendiri.
1. MU 300.
Kegunaan : perekat pasang batu bata atau bata ringan
Kemasan : 40 Kg
Daya sebar : Bata merah : kurang lebih 1,25 m2/zak (40Kg)/10 mm (tebal siar)
Bata ringan : kurang lebih 3,5 m2/zak/10 mm
2. MU 200
Kegunaan : acian plesteran beton (beton eksposed)
Kemasan : 5 Kg dan 40 Kg
Daya sebar : kurang lebih 20m2/zak (40 Kg) /1,5 mm (tebal plesteran/acian)
3. MU 380
Kegunaan : perekat bata ringan atau beton ringan
Kemasan : 5 dan 40 Kg
Daya sebar : Bata ringan tebal 10 cm : 10m2/zak (40 Kg)/3 mm
Bata ringan tebal 7,5 cm : 16 m2/zak/3 mm
4. Mu 270
Kegunaan : acian warna putih
Kemasan : 25 Kg
Daya sebar : 8,5 m2/zak (25 Kg)/ 2 mm
5. MU 301
Kegunaan : Perekat untuk pemasangan bata merah dan pasang plesteran
Kemasan : 10 dan 40 Kg
Daya sebar : Bata merah : 1,25 m2/zak (40 kg)/ 10 mm (siar)
Plesteran : 1,9 m2/zak (40 Kg)/10 mm
Bata ringan : 3,5 m2/zak/10 mm
Plesteran : 2,1 m2/zak/10mm
6. MU 400
Kegunaan : Perekat keramik dinding
Kemasan : 5 dan 25 Kg
Daya sebar : 5 m2/za k (25 kg)/ 3 mm (tebal perekat)
7. MU 440
Kegunaan : Perata lantai, atau penambah ketinggian permukaan lantai
Kemasan : 40 Kg
Daya sebar : 1,2 m2/zak/ 20 mm (ketebalan screed)
8. MU 480
Kegunaan : Perekat keramik di atas keramik
Kemasan : 5 dan 25 Kg
Daya sebar : 5 m2/zak (25)/3 mm
masih ada beberapa tipe lainnya untuk kegunaan yang beragam pula.
Material, Alat bantu, Metode, Berita-berita dan lainnya tentang konstruksi diulas di sini.
Sabtu, 28 Februari 2009
Rabu, 04 Februari 2009
Scaffolding
Scaffolding adalah alat bantu yang digunakan sebagai penopang semenatara sebelum struktur utama selesai dan siap digunakan. Berikut adalah ilustrasi bagian-bagian dari scaffolding.Notes :
U Head sangat tidak dianjurkan untuk digunakan di bagian bawah sebab akan merusak U Head-nya. Jika sudah rusak sulit untuk mengembalikannya seperti semula.
Bagian U Head dan Jack Base di atur ketinggiannya.
Material : Tangga Precast
Seperti halnya dinding prefab dan lisplang precast, tangga precast dibuat terlebih dahulu di luar area kerja untuk kemudian dipasang. Namun kerumitan pekerjaan pembuatan di luar area kerja ini maka pembuatan tangga ini diserahkan pada subkontraktor yang sudah ahli dalam membuat tangga precast.
Tangga precast yang sudah jadi akan dikirim ke lapangan dengan menggunakan flatbed tronton yang dapat mengangkut 4 tangga precast ini sekaligus. Namun, karena material ini dibuat diluar area proyek dan cukup besar sehingga untuk memindahkannya akan membutuhkan waktu yag biaya tambahan maka perlu diperhatikan kualitas materialnya, kesesuaian dengan gambar dan jenisnya sehingga ketika ditemukan ketidaksesuaian, lebih baik untuk tidak diturunkan dan dibawa lagi ke pabriknya.
Dalam proses pemasangannya perlu diperhatikan kesesuaian dengan gambar agar tidak terbalik. Selain itu, kemiringan, pertemuan dengan finish plat lantai dan pertemuan plat bordes antara tangga precast perlu diawasi dengan baik. Penyetelan pemasangan tangga precast menggunakan tuckle.
Karena fisiknya yang besar dan berat, maka dalam prosesnya pun diperlukan pengamanan yang baik sehingga dapat dihindari kecelakaan kerja dan atau rusaknya tangga karena proses ini. Diperlukan dua orang komunikator yang bertugas di lokasi yang berbeda untuk membantu operator crane ketika mengangkat tangga tersebut. Satu orang berada di bawah di lokasi penyimpanan tangga, dan satu orang berada di atas di lokasi pemasangan. Keduanya harus dilengkapi dengan sarana komunikasi.
Notes :
Jauh sebelum pemasangan dilakukan, ketika dalam pelaksanaan pekerjaan struktur, area yang akan dipasang tangga perlu diberi perhatian khusus dalam pembesiannya dan mutu pengecoran karena bobot tangga precast ini lebih dari 1,5 ton.
Selain itu area penyimpanan tangga ini pun perlu memperhitungkan daya jangkauan crane.
Tangga precast yang sudah jadi akan dikirim ke lapangan dengan menggunakan flatbed tronton yang dapat mengangkut 4 tangga precast ini sekaligus. Namun, karena material ini dibuat diluar area proyek dan cukup besar sehingga untuk memindahkannya akan membutuhkan waktu yag biaya tambahan maka perlu diperhatikan kualitas materialnya, kesesuaian dengan gambar dan jenisnya sehingga ketika ditemukan ketidaksesuaian, lebih baik untuk tidak diturunkan dan dibawa lagi ke pabriknya.Dalam proses pemasangannya perlu diperhatikan kesesuaian dengan gambar agar tidak terbalik. Selain itu, kemiringan, pertemuan dengan finish plat lantai dan pertemuan plat bordes antara tangga precast perlu diawasi dengan baik. Penyetelan pemasangan tangga precast menggunakan tuckle.
Karena fisiknya yang besar dan berat, maka dalam prosesnya pun diperlukan pengamanan yang baik sehingga dapat dihindari kecelakaan kerja dan atau rusaknya tangga karena proses ini. Diperlukan dua orang komunikator yang bertugas di lokasi yang berbeda untuk membantu operator crane ketika mengangkat tangga tersebut. Satu orang berada di bawah di lokasi penyimpanan tangga, dan satu orang berada di atas di lokasi pemasangan. Keduanya harus dilengkapi dengan sarana komunikasi.
Notes :
Jauh sebelum pemasangan dilakukan, ketika dalam pelaksanaan pekerjaan struktur, area yang akan dipasang tangga perlu diberi perhatian khusus dalam pembesiannya dan mutu pengecoran karena bobot tangga precast ini lebih dari 1,5 ton.
Selain itu area penyimpanan tangga ini pun perlu memperhitungkan daya jangkauan crane.
Selasa, 03 Februari 2009
Material : Lisplang Precast
Yang dimaksud dengan lisplang precast adalah lisplang yang dibuat terlebih dahulu di luar area kerja untuk dipasang kemudian. Lisplang ini sendiri adalah ornamen yang berfungsi menutupi bagian struktur yang letak di bagian atas, umumnya atap. Namun pada beberapa bangunan lisplang ini dapat pula menjadi dudukan struktural bagi bagian bangunan lainnya. Misalnya lisplang balkon yang terdapat dalam sebuah apartemen. Bagi unit di bawah, lisplang tersebut memperindah bagian atasnya. Namun bagi unit yang di atas, lisplang tersebut adalah dudukan bagi railing balkon, sehingga kekokohan railing tersebut bergantung pada kekuatan lisplangnya.
Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat cetakannya. Material yang digunakan adalah material yang tahan lama. Salah satunya adalah baja. Dalam membuat cetakan, dengan mengamati gambar yang diberikan, dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe. Penggolongan ini mempermudah dalam pengerjaan dan kontrol produksi, juga dapat memperhitungkan jumlah material bekisting yang dibutuhkan untuk dilakukan langkah efisiensi.
Kemudian setelah cetakan tersebut jadi, bagian dalamnya dilumuri minyak solar agar adukan beton tidak lengket dan hasil cornya rata (mulus). Setelah itu dilakukan pembesian. Seperti halnya dalam pembuatan dinding prefab, harus diperhatikan embeded yang terpasang baik jumlahnya, mutunya juga sambungannya terhadap besi utama. Begitu juga hook untuk mengangkat precast nantinya. Perhatian lebih harus diberikan pada embeded karena nantinya lisplang ini akan bergantung pada kekuatan embeded dan sambungannya ke besi utama ( karena posisinya gantung ). Lisplang ini nantinya akan dipasang dengan posisi menjepit plat struktur yang sudah ada, maka cek pula jarak antara embeded atas dengan embeded bawah. Jaraknya tidak boleh terlalu lebar dibandingkan dengan tebal plat struktur.
Setelah semua besi terpadang, beri styrofoam pada bagian yang semestinya tidak boleh kena cor, seperti embeded dan hook. Setelah itu lisplang siap dicor.
Setelah lisplang mencapai umurnya (sepertinya pada beton), kemudian diangkat dan diletakkan pada lokasi pasca produksi. Di lokasi ini nantinya lisplang diperbaiki lagi kemudian diberi sealer setelah itu diangkat dan dipasang pada lokasi yang sudah ditentukan. Bagian yang diberi styrofoam, dibersihkan kemudian bekasnya dibersihkan. Peletakan lisplang ini harus diberi kayu dahulu untuk mencegah rusaknya lisplang karena benturan dengan alasnya ketika dalam proses pengangkatan.
Pengecekan terakhir dilakukan terutama pada lisplang bagian luar, karena jika bagian ini yang rusak maka akan sulit untuk memperbaikinya. Kemudian dengan menggunakan bantuan crane lisplang diangkat dan diletakkan pada posisinya. Untuk penyesuaian posisi digunakan tuckle. Sambungan antara precast dengan plat di las. Perhatikan vertikalitas dan horisontalnya ketika memasang, juga jarak balkon. Perhatikan gambar finish dan bandingkan dengan markingan yang tersedia. Finishing perlu dilakukan untuk menutup lubang sambungan tadi dan hook yang digunakan untuk mengangkat lisplang tadi.
Notes :
Selain di sisi precastnya, yang perlu diperhatikan juga adalah kekuatan struktur dari plat dimana precast tersebut menempel baik pembesian maupun pengecorannya. Selain itu perlu diberikan perhatian lebih pada perletakan embeded serta sambungannya ke tulangan utama, karena itulah kunci kekuatan precast yang akan dipasang.
Kamis, 29 Januari 2009
Gambar-Gambar Konstruksi
Sebelum masa pembangunan, sebuah bangunan gedung akan melalui tahap perencanaan. Sebagai alat komunikasinya digunakanlah gambar-gambar yang memberikan ilustrasi tentang gedung tersebut nantinya. Selain untuk menampilkan wujud fisik bangunannya, gambar-gambar ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan struktur bangunan dan sistem utilitas di dalamnya sehingga selain bangunan tersebut terlihat indah, juga aman dan nyaman untuk ditempati.
Semakin rumit wujud dan fungsi bangunan, maka akan semakin banyak gambar yang dibutuhkan sehingga memudahkan dalam pelaksanaan konstruksi nantinya.
Selama proses perencanaan hingga selesainya pekerjaan, dikenal beberapa jenis gambar, yaitu :
1. Gambar PERENCANAAN
Adalah gambar yang dihasilkan dari pemikiran dari para perencana seperti arsitek, engineer struktur, mekanikal dan elektrikal. Gambar perencanaan merupakan imajinasi dari para perencana yang digunakan sebagai alat komunikasi dengan pemilik pekerjaan sehingga pemilik pekerjaan dapat mengetahui sejauh mana bangunan yang direncanakan tersebut memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Karena itu gambar perencanaan akan mengalami banyak perubahan hingga pada tahap yang sudah disepakati bersama atau bahkan hingga pemilik menemukan keinginannya. Gambar perencanaan belum memiliki detil yang cukup hingga layak untuk dijadikan acuan dalam proses pembangunan.
2. Gambar TENDER
Gambar tender adalah gambar yang digunakan sebagai acuan dalam perhitungan volume pekerjaan dalam proses pemilihan kontraktor. Gambar ini sudah lebih detil dari gambar perencanaan. Ukuran-ukuran penting sudah tertera dengan jelas, gambar-gambar pelengkap sudah tersedia, acuan-acuan untuk pembangunan juga sudah diberikan. Tujuannya adalah menunjang perhitungan yang cermat sesuai dengan spesifikasi yang diminta. Gambar ini mengikat terhadap penawaran yang sudah diberikan dan menjadi acuan terhadap klaim dalam tahap selanjutnya.
3. Gambar KONSTRUKSI
Tahap selanjutnya setelah pemilihan kontraktor adalah memulai pembangunan (konstruksi). Untuk itu gambar ini diluncurkan, yang isinya adalah penyempurnaan dari gambar tender. Penyempurnaan ini terjadi karena pada masa tender adakalanya antara uraian pekerjaan, spesifikasi teknis dan gambar terdapat perbedaan. Setelah disepakati pada saat tender (terangkum dalam berita acara rapat klarifikasi) maka perubahan yang terjadi dituangkan dalam gambar konstruksi ini. Gambar ini kemudian menjadi acuan bagi kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan dan menjadi dasar juga untuk pelaksanaan yang dilimpahkan pada pihak ketiga.
4. Gambar KERJA (Shop Drawing)
Agar hasil pembangunan nantinya tidak berbeda dari yang sudah direncanakan maka pihak kontraktor membuat gambar ini yang isinya sudah jauh lebih detil dari jenis gambar sebelumnya (gambar konstruksi). Ukuran-ukuran sudah diberikan hingga detil, memperjelas hasil yang diinginkan. Detil material yang akan digunakan sudah dicantumkan (sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditentukan). Acuan-acuan pekerjaan juga sudah dicantumnya. Intinya gambar ini dibuat sejelas mungkin sehingga pelaksana pekerjaan (mandor, tukang) dan pengawas (pelaksana, quality control) mengerti hasil yang diinginkan dan tidak mebuat perubahan dari gambar konstruksi sudah diberikan di tahap sebelumnya. Gambar kerja ini sebelum digunakan di lapangan harus mendapatkan persetujuan dari perwakilan dari pemilik pekerjaan di lapangan (direksi pengawas) dengan acuan adalah gambar konstruksi. Jika ternyata ada perbedaan yang harus dilakukan di lapangan maka direksi pengawas harus membubuhkan penyataan perubahan dan diberi tandatangan di atas gambar yang dimaksud. Catatan-catatan dan dokumentasi lainnya akan menjadi acuan dalam pembuatan As Built Drawing nantinya.
5. Gambar JADI (As Built Drawing)
Adalah gambar final dari bangunan gedung yang sudah selesai dilaksanakan. Gambar ini dibuat oleh kontraktor sebagai pertanggungjawaban atas pekerjaan yang sudah dilakukan dan akan digunakan oleh pemilik bangunan sebagai acuan dalam melakukan perawatan nantinya. Gambar ini memuat informasi dalam gambar kerja ditambah catatan-catatan perubahan di lapangan.
Bisa terjadi beberapa jenis gambar di atas dihilangkan dengan alasan untuk menghemat waktu dan biaya, tergantung pada perjanjian yang dilakukan antara pemilik pekerjaan dengan kontraktor, misalnya pada jenis pekerjaan design and built. Penggunaan gambar-gambar ini dimaksudkan agar hasil pelaksanaan sesuai dengan keinginan pemilik dan dengan biaya dan waktu yang sudah diperkirakan sebelumnya.
*Adalah hasil pengamatan dan pengalaman pada beberapa proyek. Istilah-istilah diambil dari komunikasi yang terjadi di lapangan.
Semakin rumit wujud dan fungsi bangunan, maka akan semakin banyak gambar yang dibutuhkan sehingga memudahkan dalam pelaksanaan konstruksi nantinya.
Selama proses perencanaan hingga selesainya pekerjaan, dikenal beberapa jenis gambar, yaitu :
1. Gambar PERENCANAAN
Adalah gambar yang dihasilkan dari pemikiran dari para perencana seperti arsitek, engineer struktur, mekanikal dan elektrikal. Gambar perencanaan merupakan imajinasi dari para perencana yang digunakan sebagai alat komunikasi dengan pemilik pekerjaan sehingga pemilik pekerjaan dapat mengetahui sejauh mana bangunan yang direncanakan tersebut memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Karena itu gambar perencanaan akan mengalami banyak perubahan hingga pada tahap yang sudah disepakati bersama atau bahkan hingga pemilik menemukan keinginannya. Gambar perencanaan belum memiliki detil yang cukup hingga layak untuk dijadikan acuan dalam proses pembangunan.
2. Gambar TENDER
Gambar tender adalah gambar yang digunakan sebagai acuan dalam perhitungan volume pekerjaan dalam proses pemilihan kontraktor. Gambar ini sudah lebih detil dari gambar perencanaan. Ukuran-ukuran penting sudah tertera dengan jelas, gambar-gambar pelengkap sudah tersedia, acuan-acuan untuk pembangunan juga sudah diberikan. Tujuannya adalah menunjang perhitungan yang cermat sesuai dengan spesifikasi yang diminta. Gambar ini mengikat terhadap penawaran yang sudah diberikan dan menjadi acuan terhadap klaim dalam tahap selanjutnya.
3. Gambar KONSTRUKSI
Tahap selanjutnya setelah pemilihan kontraktor adalah memulai pembangunan (konstruksi). Untuk itu gambar ini diluncurkan, yang isinya adalah penyempurnaan dari gambar tender. Penyempurnaan ini terjadi karena pada masa tender adakalanya antara uraian pekerjaan, spesifikasi teknis dan gambar terdapat perbedaan. Setelah disepakati pada saat tender (terangkum dalam berita acara rapat klarifikasi) maka perubahan yang terjadi dituangkan dalam gambar konstruksi ini. Gambar ini kemudian menjadi acuan bagi kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan dan menjadi dasar juga untuk pelaksanaan yang dilimpahkan pada pihak ketiga.
4. Gambar KERJA (Shop Drawing)
Agar hasil pembangunan nantinya tidak berbeda dari yang sudah direncanakan maka pihak kontraktor membuat gambar ini yang isinya sudah jauh lebih detil dari jenis gambar sebelumnya (gambar konstruksi). Ukuran-ukuran sudah diberikan hingga detil, memperjelas hasil yang diinginkan. Detil material yang akan digunakan sudah dicantumkan (sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditentukan). Acuan-acuan pekerjaan juga sudah dicantumnya. Intinya gambar ini dibuat sejelas mungkin sehingga pelaksana pekerjaan (mandor, tukang) dan pengawas (pelaksana, quality control) mengerti hasil yang diinginkan dan tidak mebuat perubahan dari gambar konstruksi sudah diberikan di tahap sebelumnya. Gambar kerja ini sebelum digunakan di lapangan harus mendapatkan persetujuan dari perwakilan dari pemilik pekerjaan di lapangan (direksi pengawas) dengan acuan adalah gambar konstruksi. Jika ternyata ada perbedaan yang harus dilakukan di lapangan maka direksi pengawas harus membubuhkan penyataan perubahan dan diberi tandatangan di atas gambar yang dimaksud. Catatan-catatan dan dokumentasi lainnya akan menjadi acuan dalam pembuatan As Built Drawing nantinya.
5. Gambar JADI (As Built Drawing)
Adalah gambar final dari bangunan gedung yang sudah selesai dilaksanakan. Gambar ini dibuat oleh kontraktor sebagai pertanggungjawaban atas pekerjaan yang sudah dilakukan dan akan digunakan oleh pemilik bangunan sebagai acuan dalam melakukan perawatan nantinya. Gambar ini memuat informasi dalam gambar kerja ditambah catatan-catatan perubahan di lapangan.
Bisa terjadi beberapa jenis gambar di atas dihilangkan dengan alasan untuk menghemat waktu dan biaya, tergantung pada perjanjian yang dilakukan antara pemilik pekerjaan dengan kontraktor, misalnya pada jenis pekerjaan design and built. Penggunaan gambar-gambar ini dimaksudkan agar hasil pelaksanaan sesuai dengan keinginan pemilik dan dengan biaya dan waktu yang sudah diperkirakan sebelumnya.
*Adalah hasil pengamatan dan pengalaman pada beberapa proyek. Istilah-istilah diambil dari komunikasi yang terjadi di lapangan.
Langganan:
Postingan (Atom)