Material, Alat bantu, Metode, Berita-berita dan lainnya tentang konstruksi diulas di sini.
Sabtu, 04 Juni 2011
Excavator
Minggu, 29 Agustus 2010
CRAWLER CRANE


Setiap kejadian ada hikmahnya. Seperti halnya alat ini, baru tahu setelah pindah ke proyek ini dan mengalami permasalahan alat bantu.
Kemi menghadapi kesulitan untuk mengantisipasi laju pekerjaan kami yang terhambat karena struktur tower crane kami. Karena struktur tersebut kami tidak dapat menyelesaikan secara utuh bagian tertentu dari bangunan kami, padahal jadwal sudah semakin mendesak. Pada saat itu kami hanya berpikir untuk memindahkan titik tower crane ke lokasi yang lebih jauh, dan membayangkan pondasi dan dudukan bracing dari tc tersebut. Belum masalah passenger hoist yang ada di sana. Makin bingung.
Kemudian rekan kami ada yang berusaha mencari tahu segala macam alat yangtersedia di sekitar proyek kami, dan ada satu pemecahan yang menarik. Yaitu Crawler crane ini.
Dari penuturan yang kami dapatkan, crawler ini dapat kami gunakan sebagai pengganti TC dengan pertimbangan :
1. Bobot maksimum yang dapat dipikul oleh crawler ini memenuhi kebutuhan kami (kami melihat yang mampu menahan bobot sampai dengan 100 ton)
2. Panjang lengan mencukupi untuk kebutuhan area kami (kami butuh sampai dengan 45 meter)
3. Yang pasti kami harapkan murni menghilangkan struktur TC dari area sturktur bangunan kami, yang jelas-jelas dipenuhi oleh alat ini. Karena prinsipnya alat ini seperti mobile crane yang bannya adalah tipe ban datar (ban baja). Namun dapat bekerja layaknya TC.
4. Proses bongkar dan pasang cepat dan tidak mengganggu pekerjaan.
Walaupun begitu ada pertimbangan negatif yang kami dapatkan yaitu :
1. Harga sewanya yang cukup mahal.
2. Sistem gantungan yang berbeda dengan TC (yang menggunakan dua sling sehinga lebih stabil), tipe ini menggunakan satu sling, sehingga rawan berputar.
3. Operator ada di bawah (berbeda dengan TC operatornya ada di atas) sehingga selalu membutuhkan tenaga tambahan karena jarak pandang yangterbatas pada ketinggian crawler tersebut.
Keputusan kami tetap menggunakan alat tersebut, karena dengan alat tersebut kami dapat menyelesaikan struktur secara utuh tanpa terganggu proses pasang dan bongkar alat.
Senin, 28 Juni 2010
Menara ATC
Pandangan yang harus bebas mengarah ke arah landasan dan Apron (tempat parkir pesawat) menempatkan menara pada bangunan yang memiliki karakter khusus. Mulai dari denah dalam bangunan yang di utamakan bebas pandang ke segala penjuru arah, kemudian aksesibilitas yang mudah namun hanya dibatasi bahkan hingga ke bagian tanaman yang ada di sekililingnya. Tujuan hanya satu, yaitu memiliki pandangan yang luas ke segala arah bandara.
Dalam proses pembangunannya pun memiliki karakter khusus. Kadang dikarenakan sempitnya core di dalam menara tersebut maka sangat sulit untuk melakukan aktivitas konstruksi di dalamnya.
Selasa, 09 Februari 2010
BANGUNAN PRACETAK
Kuil Parthenon di Yunani, dibuat dengan cara menumpuk bebatuan, memilihnya, mengunakan sesuai ukuran dan memahatnya untuk kemudian disusun menjadi sebuah bangunan yng sekarang kira lihat puingnya. Lebih jauh lagi, kaum fir'aun, menumpuk bebatuan dari gunung yang didatangkan dari jauh, satu per satu hingga menjadi bangunan yang sekarang kita lihat. Dan terakhir di negeri sendiri yaitu candi borobudur. Semuanya dibangun dengan membuat bagian-bagian bangunan di luar lokasi pembangunan untuk kemudian dipasang pada lokasi yang sudah direncanakan.
Dengan teknologi yang ada saat ini, maka teknik membangun ini menjadi terbuka kembali. Kemajuan di bidang metalurgi menghasilkan baja yang dijadikan tulangan pada struktur bangunan masa kini. Di bagian kimia menghasilkan semen, admixture dan lain sebagainya sebagai material bangunan. Di bidang teknik mesin, hidrolika dan angkutan, kita kenal mobile crane. Sehingga untuk melaksanakan sistem pracetak pun semakin mudah dilakukan.
Seperti halnya lego, dengan sistem pracetak, kolom, balok, plat atau bagian lainnya pada sebuah bangunan dibuat di luar lokasi pengerjaan untuk kemudian dipasangkan. Awalnya adalah sebuah bangunan yang sudah direncanakan dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Bagian-bagian tersebut dikumpulkan dan diidentifikasi. Setelah itu secara bertahap dan berurutan bagian-bagian tersebut diproduksi. Selanjutnya bagian-bagian tersebut dipasang pada posisi sesuai rencana.
Saat ini ada kurang lebih 27 macam sistem pracetak yang dihasilkan oleh putra-putri Indonesia. Salah satunya adalah sistem NINDYA SPIRCON, yang diilhami oleh Bpk. Lutfi Faisal dan saat ini dipegang lisensinya oleh PT. NINDYA KARYA (Persero). Sistem ini membagi struktur bangunan (terutama bagian atas) menjadi tiga bagian utama dan bagian penunjang lainnya. Ketiganya yaitu Kolom, Balok dan Plat. Keunikan sistem ini ada pada sistem sambungan antara balok dan kolom, serta kolom dan kolom dimana sistem ini menggunakan besi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga meyerupai coil atau per, yang disebut sebagai spiral. Spiral ini yang menghubungkan pembesian antara bagian-bagian bangunan ini untuk kemudian digrout. Plat lantai diletakkan di atas balok yang sudah disusun tadi. Beberapa bangunan rumah susun sudah didirikan dengan menggunakan sistem ini. Salah satunya di Pinang Elok, Jakarta. Pengembangan untuk menjadikan sistem ini menjadi lebih baik masih dilakukan dengan harapan sistem ini dapat menjadi salah satu sistem yang dapat diandalkan dalam mendirikan bangunan gedung, tidak hanya hunian namun jenis lainnya.
Sabtu, 02 Januari 2010
Now Introducing the Burj Dubai
By Tim McKeough
Dubai has made headlines in recent weeks for its financial woes, and many are saying this once-booming desert metropolis has gone bust. But the emirate does have something to celebrate: The Burj Dubai, the world’s tallest building, is due to officially open on January 4.
Precisely how many feet this superlative tower rises into the sky remains a mystery. “The final height is still being guarded closely,” says George Efstathiou, FAIA, managing partner in charge of the project at Skidmore, Owings & Merrill. “We’re bound to keep it a secret.”
The skyscraper is widely believed to be 2,684 feet tall, but recent changes to the way the Council on Tall Buildings and Urban Habitat measures building height complicates such estimates. Still, regardless of final calculations, the Burj Dubai will rise considerably higher than Taiwan’s 1,667-foot-tall Taipei 101, which opened in 2004 and has held the record for the world’s tallest building in terms of “height to architectural top.”
Situated in the city center, the roughly 160-story Burj Dubai will consist primarily of luxury apartments, office space, and an Armani Hotel. Encompassing more than 3 million square feet above grade, with an additional 2 million square feet below, the tower was built with some 327,000 cubic yards of concrete and 35,700 metric tons of rebar. At the peak of design activity, SOM had a team of 100 employees dedicated to the project in its Chicago office, along with a handful in Dubai.
The tower was originally scheduled to be completed in 2008, but developer Emaar pushed the date back several times in response to height modifications, construction worker strikes, and changes to interior finishes. “The obstacles were nothing more than normal” for a supertall tower, Efstathiou reports, noting that in terms of structure, the building was on solid footing from the beginning due to its Y-shaped base. He adds that although the tower will formally open in January, “polishing” work will continue for a few months.
Efstathiou says his team’s excitement has escalated in recent months, as the building nears completion. But he adds, “There’s also some sadness that this journey we’ve been on for over six years is now coming to an end.”